TENISMEJA.NET – Presiden Chinese Table Tennis Association, Wang Liqin, menyatakan bahwa upaya untuk mengatasi budaya fans beracun atau toxic fan culture di dunia tenis meja China mulai menunjukkan hasil positif.
Pernyataan tersebut disampaikan Wang Liqin saat menghadiri sidang politik tahunan China yang dikenal sebagai Two Sessions di Beijing, sebagai anggota Chinese People’s Political Consultative Conference. Dalam kesempatan itu, ia juga didampingi mantan presiden CTTA sekaligus legenda tenis meja China, Liu Guoliang.
Dalam beberapa tahun terakhir, tenis meja China menghadapi fenomena fan culture yang dinilai terlalu ekstrem, terutama di media sosial.
Beberapa pemain top yang kerap menjadi pusat perhatian penggemar antara lain Fan Zhendong, Sun Yingsha, dan Chen Meng.
Persaingan antar penggemar pemain sering memicu perdebatan sengit di media sosial, bahkan menimbulkan tekanan psikologis terhadap para atlet. Situasi tersebut sempat menjadi perhatian serius otoritas olahraga di China.
Menurut Wang Liqin, dengan adanya perhatian dari pemerintah serta masyarakat, kondisi tersebut kini mulai menunjukkan perbaikan meskipun masih ada sebagian penggemar yang meragukan efektivitas langkah yang diambil.
Isu fan culture kembali ramai dibahas setelah turnamen Singapore Smash 2026. Dalam turnamen tersebut, untuk pertama kalinya China tidak berhasil menyapu bersih lima medali emas.
Tim China hanya meraih dua gelar melalui kemenangan Wang Chuqin di nomor tunggal putra dan Sun Yingsha di nomor tunggal putri.
Hasil tersebut menjadi indikasi bahwa persaingan tenis meja dunia semakin ketat, dengan banyak negara mulai mampu menantang dominasi China.
Wang Liqin menjelaskan bahwa saat ini CTTA memiliki dua fokus utama dalam pengembangan tenis meja nasional.
Pertama adalah mempersiapkan tim nasional menghadapi Olimpiade Los Angeles 2028. Kedua adalah membangun sistem pembinaan atlet muda yang lebih kuat.
Ia menekankan pentingnya kerja sama antara pemerintah daerah, sekolah tenis meja tradisional, serta klub olahraga dan komunitas dalam membangun regenerasi atlet nasional.
Menurutnya, kolaborasi tersebut sangat penting untuk memastikan keberlanjutan prestasi tenis meja China di tingkat internasional.
Selain pembinaan atlet, CTTA juga mulai memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence dalam sistem pelatihan atlet.
Teknologi tersebut digunakan untuk menganalisis performa pemain, memantau proses latihan, hingga menyusun strategi pertandingan secara lebih akurat.
Langkah ini merupakan bagian dari modernisasi sistem pelatihan guna menjaga keunggulan tenis meja China di era teknologi.
Ketika ditanya mengenai kemungkinan kembalinya juara Olimpiade Fan Zhendong ke tim nasional, Wang Liqin menyatakan pihaknya masih terus menjalin komunikasi dengan sang pemain.
Sementara itu, Liu Guoliang menegaskan bahwa target utama tim nasional adalah Olimpiade Los Angeles 2028. Ia juga mengingatkan bahwa atlet tidak perlu terburu-buru mengikuti semua turnamen, terutama kompetisi yang tidak memberikan poin peringkat dunia.
Liu juga mendorong penerapan konsep adversity education, yaitu pendidikan mental melalui olahraga agar para atlet mampu menghadapi tekanan, kegagalan, serta tantangan kompetisi di level tertinggi.***
Source: scmp.com
