TENISMEJA.NET – Dalam dunia tenis meja profesional yang sangat kompetitif, mengubah gaya permainan di puncak karier sering kali dianggap sebagai “bunuh diri” teknis. Namun, bagi bintang Jerman Sabine Winter, langkah drastis inilah yang justru menyelamatkan kariernya dan membawanya ke jajaran elit dunia.
Hanya dalam waktu 16 bulan, Winter meroket dari pemain yang belum pernah menembus Top 40 menjadi peringkat 9 dunia. Prestasi ini semakin mencengangkan mengingat ia sempat terpikir untuk gantung bat karena kehilangan rasa cinta pada olahraga ini.
Di usia 33 tahun, saat banyak atlet mulai memikirkan masa pensiun, Winter justru mengambil risiko terbesar dalam hidupnya. Ia menanggalkan gaya menyerang konvensional dan beralih ke gaya permainan ortodoks menggunakan raket dengan karet anti-spin.
“Saya berubah pada pertengahan November 2024. Dari satu hari ke hari berikutnya, saya berkata, ‘Oke, saya simpan raket lama saya, dan saya pakai yang ini sekarang’,” ungkap Winter kepada WTT.
Keputusan ini awalnya diragukan banyak pihak. Mempelajari gaya baru di level top biasanya memakan waktu bertahun-tahun, namun Winter berhasil menguasainya hanya dalam hitungan bulan dengan bantuan pelatih Hermann Mühlbach dan latihan mandiri menggunakan robot.
Keraguan publik mulai sirna saat Winter tampil di Europe Smash – Sweden 2025. Menggunakan gaya barunya, ia sukses menumbangkan pemain nomor 3 dunia, Chen Xintong, dan melaju hingga perempat final. Peringkatnya pun melonjak ke posisi 26 dunia.
Momentum Winter terus berlanjut hingga musim 2026. Di ajang bergengsi Singapore Smash 2026, ia berhasil mencapai babak semifinal—sebuah pencapaian terbaiknya di turnamen level Grand Smash. Dalam perjalanannya, ia membalas kekalahan menyakitkan dari bintang China, Wang Yidi, dengan kemenangan telak 4-2 di perempat final.
Saat ini, Sabine Winter memegang predikat prestisius sebagai satu-satunya pemain non-Asia yang menghuni daftar 10 besar dunia. Ketangguhannya kembali teruji di ITTF World Cup Macao 2026, di mana ia kembali mengalahkan Wang Yidi sebelum akhirnya dihentikan oleh juara bertahan Sun Yingsha di semifinal.
“Tentu saja saya tidak menyangka akan sukses secepat ini. Saya hanya berharap bisa sedikit lebih baik dari sebelumnya, tapi saya tidak pernah percaya bisa berada di Top 15 dunia hanya dalam waktu satu setengah tahun,” ujarnya rendah hati.
Dengan sisa musim 2026 yang masih panjang dan tiga turnamen Grand Smash di depan mata, Winter yakin level permainannya masih bisa berkembang. Meskipun ia menyadari bahwa lawan-lawannya akan mulai menganalisis gaya uniknya, Winter siap memberikan lebih banyak cerita kejutan di atas meja hijau.
Kisah Sabine Winter adalah pengingat bahwa usia hanyalah angka, dan keberanian untuk keluar dari zona nyaman bisa membuahkan hasil yang tak terbayangkan.***
Source: worldtabletennis.com
